Beginilah Sebaiknya Jika Wanita Meminta Mahar

Posted on 2015-11-11 16:47





Mahar, atau pemberian dari calon suami saat akan menikah dalam Islam diisyaratkan sesuatu yang tak memberatkan calon suaminya. Mahar yang berupa harta benda sudah lazim dilakukan dari jaman dahulu sampai saat ini. Namun mahar yang satu ini berbeda, mahar Ummu Sulaim bukan berupa segepok uang, perhiasan atau apapun yang besifat benda keduniawian. Ia meminta pada calon suaminya, Abu Thalhah diberi mahar, masuk agama Islam!

Diriwayatkan Abu Thalhah datang kepada Ummu Sulaim, bermaksud melamarnya. Saat itu ia masih kafir, menyembah berhala seperti banyak yang dilakukan oleh kaumnya. Sedang Ummu Sulaim adalah wanita yang taat beragama. Ia sangat mencintai Islam. Menjunjung tinggi agama Illahi lebih terasa berarti baginya untuk kehidupannya saat itu. Dakwah Islam ingin dilakukan dengan cara apapun.

“Wahai Abu Thalhah, orang sepertimu tak pantas untuk ditolak, akan tetapi kamu orang kafir, sedang aku orang muslimah, kamu tidak bisa menikahiku.” Abu Thalhah tertegun setelah mendengar penuturan Ummu Sulaim. Terlihat ia sebenarnya tidak ingin menolak dirinya untuk menjadi suaminya, namun Islam melarang wanita muslimah untuk menikah dengan non muslim dengan alasan akan  sangat kesulitan dalam banyak hal dalam mengarungi kehidupan pernikahan. Dan keberkahan pernikahan tersendiri jadi jauh terkurangi.

“Apakah maharmu?” Tanya Abu Thalhah ia mengira Ummu Sulaim mengatakan demikian karena pastilah berhubungan mahar yang tinggi.

“Apa maharku?” Ummu Sulaim malah berbalik bertanya. “Yang kuning dan yang putih...?” Abu Thalhah memperjelas pertanyaannya. Yang dimaksud “kuning dan Putih” adalah sesuatu yang berhubungan dengan harta benda.

“Aku tidak ingin yang kuning atau yang putih, namun aku ingin kamu masuk Islam.” Kata Ummu Sulaim mantap. Abu Thalhah sangat terkejut, ia tak mengira Ummu Salamah mengungkapkan keinginannya agar ia masuk Islam. Setelah ia pikir-pikir dan sebenarnya ia sudah mulai tertarik dengan Islam. “Kepada siapakah aku melakukannya?” Tanya Abu Thalhah lebih lanjut. Ummu Sulaim menjawab sambil tersenyum, karena ia tahu kemungkinan besar Abu Thalhah akan mengucapkan dua kalimat sahadat. “lakukanlah di depan Rasulullah!”

Tak perlu buang waktu ia langsung mencari Rasulullah saw yang sedang duduk bersama dengan sahabatnya. Seperti sudah bisa menebak maksud kedatangannya, Beliau berkata,”Abu Thalhah telah datang kepada kalian dan kemuliaan Islam telah berada diantara kedua matanya.” Kemudian ia menceritakan maksud kedatangannya dan keinginan menikahi Ummu Sulaim dengan mahar masuk Islam.

Abu Thalhah telah mendapatkan hidayah yang terbaik. Ummu Sulaim sebagai perantara hidayah itu sampai kepadanya. Tsabit berkata,”Kami tidak mendengar bahwa maharnya lebih besar dari pada itu, sesungguhnya ia telah ridha dengan Islam sebagai mahar, dan Abu Thalhah menikahinya dengan masuk Islam…”

Kisah ini memberikan pelajaran berharga kepada para muslimah untuk tidak selalu memberatkan pihak calon suami dalam memberikan maharnya. Ke-Islaman yang baik calon suami diharapkan dapat mengantar keluarga dalam Jannah-Nya itu lebih utama. Mengutamakan kehidupan yang seimbang antar dunia dan akhirat. Karena sebenarnya jika ridha Allah telah kita dapat, rezeki akan dicurahkan Allah. Dan kehidupan pernikahan yang seperti ini jauh lebih baik dari pada yang selalu megutamakan harta diatas segalanya.











Artikel Menarik Lainnya

Posted on 2015-11-06 12:53
Posted on 2016-04-15 16:27
Posted on 2016-01-23 00:00