Ini Perilaku-Perilaku Istri Durhaka kepada Suami

Posted on 2015-12-04 16:29





Dalam membangun sebuah rumah tangga yang sukses memang dibutuhkan peran suami-istri yang saling pengertian. Dan seharusnya memang dalam keluarga harus lebih ada sikap yang membuat suami-istri saling terbuka dan saling menghargai.

Allah Subhanahu wa Ta’ala melarang istri durhaka kepada suami. Sebaliknya, Allah menjadikan ketaatan seorang muslimah kepada suaminya sebagai salah satu kriteria masuk surga melalui pintu mana pun.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda,

إِذَا صَلَّتِ الْمَرْأَةُ خَمْسَهَا وَصَامَتْ شَهْرَهَا وَحَفِظَتْ فَرْجَهَا وَأَطَاعَتْ زَوْجَهَا قِيلَ لَهَا ادْخُلِى الْجَنَّةَ مِنْ أَىِّ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ شِئْتِ

“Jika seorang wanita selalu menjaga shalat lima waktu, juga berpuasa sebulan (di bulan Ramadhan), menjaga kemaluannya (dari perbuatan zina) dan taat pada suaminya, maka dikatakan pada wanita tersebut, “Masuklah ke surga melalui pintu manapun yang engkau suka.” (HR. Ahmad; shahih)

Ternyata bentuk kedurhakaan istri kepada suami bisa bermacam-macam. Muhammad bin Ibrahim Al Hamd dan Abdullah bin Al Ju’atsain menuliskannya dalam buku Min Akhtha’ Az Zaujat Aswa’ Az Zaujat yang telah diterjemahkan menjadi Durhaka Istri kepada Suami.

Berikut ini webmuslimah sajikan inti sarinya:

1. Mengungkit-ungkit pemberian kepada suami

Ada kalanya istri lebih kaya dari suami. Atau keluarga istri lebih berada dibandingkan keluarga suami. Sehingga pihak istri memberikan sesuatu kepada sang suami. Pemberian yang ikhlas, tentu sah-sah saja. Bahkan merupakan kebaikan dan menambah kasih sayang.

Namun jika istri suka mengungkit-ungkit pemberian, hal ini merupakan bentuk menyakiti hati suami. Merupakan bentuk kedurhakaan kepada suami. Kadang terdengar cerita, seorang istri sampai mengatakan kepada suaminya, “Kamu itu dulunya nggak punya apa-apa, sekarang bisa sukses karena dulu dikasih modal sama Papa” atau “Harusnya kamu yang menafkahi aku dan anak-anak. Tapi gajimu itu nggak cukup. Kalau aku nggak kerja dan mensubsidi kamu, bagaimana keluarga kita bisa hidup.” Na’udzubillah.

Di akhirat, orang yang suka mengungkit-ungkit pemberian akan mendapatkan azab yang pedih.

ثَلاَثَةٌ لاَ يُكَلِّمُهُمُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ وَلاَ يَنْظُرُ إِلَيْهِمْ وَلاَ يُزَكِّيهِمْ وَلَهُمْ عَذَابٌ أَلِيمٌ قَالَ فَقَرَأَهَا رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ثَلاَثَ مِرَارٍ. قَالَ أَبُو ذَرٍّ خَابُوا وَخَسِرُوا مَنْ هُمْ يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ الْمُسْبِلُ وَالْمَنَّانُ وَالْمُنَفِّقُ سِلْعَتَهُ بِالْحَلِفِ الْكَاذِبِ

“Ada tiga golongan yang pada hari kiamat Allah tidak berbicara kepada mereka, tidak melihat mereka dan tidak mensucikan mereka, serta bagi mereka azab yang pedih.” Abu Dzar berkata, “Mereka merugi, siapa mereka ya Rasulullah?” Beliau menjawab, “orang yang memanjangkan ujung pakaiannya, orang yang suka mengungkit-ungkit pemberian dan orang yang memberikan barangnya dengan sumpah palsu” (HR. Muslim)

2. Banyak berkeluh kesah dan kurang bersyukur

Ada tipe istri yang suka berkeluh kesah dan kurang bersyukur. Ucapan hamdalah jarang keluar dari lisannya, ucapan terima kasih kepada suami juga jarang terdengar darinya.

Jika mendapatkan nafkah dari suami ia tidak mensyukurinya, tetapi selalu merasa kurang. Jika nafkah dari suami bertambah seiring bertambahnya penghasilan suami ia tidak juga bersyukur namun justru membandingkan dengan teman atau tetangga.

Sikap tidak berterima kasih kepada suami ini merupakan bentuk kedurhakaan yang paling umum sehingga mengakibatkan banyak wanita masuk neraka.

أُرِيتُ النَّارَ فَإِذَا أَكْثَرُ أَهْلِهَا النِّسَاءُ يَكْفُرْنَ . قِيلَ أَيَكْفُرْنَ بِاللَّهِ قَالَ يَكْفُرْنَ الْعَشِيرَ ، وَيَكْفُرْنَ الإِحْسَانَ ، لَوْ أَحْسَنْتَ إِلَى إِحْدَاهُنَّ الدَّهْرَ ثُمَّ رَأَتْ مِنْكَ شَيْئًا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ مِنْكَ خَيْرًا قَطُّ

“Diperlihatkan neraka kepadaku. Ketika itu aku melihat kebanyakan penghuninya adalah wanita.” Seseorang bertanya, “Apakah mereka kufur kepada Allah?” Rasulullah menjawab, “Mereka kufur kepada suami dan tidak berterima kasih atas kebaikan yang diterimanya. Walaupun sepanjang masa engkau telah berbuat baik kepada mereka, begitu mereka melihat sedikit kesalahan darimu, maka mereka berkata, ‘Aku tak pernah melihat kebaikan darimu’” (HR. Bukhari)

3. Berlebihan dalam menuntut kesempurnaan

Ada kalanya seorang wanita membayangkan bahwa kehidupan pernikahan hanya berisi hal-hal yang indah. Hari-hari penuh cinta, hari-hari penuh canda, hari-hari yang serba bahagia. Tak pernah ada masalah, tak pernah ada problematika, tak pernah ada hal-hal yang menyedihkan, tak pernah ada hal-hal yang menyusahkan.

Begitu ia berumah tangga dan ternyata mendapati hal yang berbeda, ia berpikir telah salah memilih suami. Ada masalah yang datang, ada problem yang hadir, ia merasa hal itu karena suaminya bukan suami yang tepat.

Anggapan bahwa rumah tangga hanya berisi hal-hal yang indah saja umumnya muncul karena pendidikan yang lemah atau selama ini dimanjakan orang tua. Sebelum menikah ia hanya mengetahui dari cerita-cerita indah tentang rumah tangga baik dari orang tua atau novel indahnya rumah tangga. Sedangkan sisi lain rumah tangga ia tidak mengetahui dan tidak siap menerimanya.

4. Tidak memperhatikan mertua

Ada kalanya seorang istri hidup bersama dengan mertuanya dalam satu rumah. Pada kondisi demikian, ia benar-benar akan “diuji” bagaimana bersikap terhadap mertua. Sebab berbuat baik kepada mertua merupakan salah satu bentuk bakti seorang istri kepada suaminya.

Jika seorang istri tidak hormat kepada mertua, tidak memperhatikan perasaan mereka, bahkan meninggikan suara kepada mereka, hal itu termasuk bagian dari bentuk durhaka istri kepada suami.

Merasa ingin segera berpisah dari mertua juga merupakan sebentuk kesalahan. Apalagi jika mendoakan keduanya segera meninggal. Sikap durhaka yang lebih tinggi adalah jika istri berani menyakiti mertuanya, mencari kesalahan mereka dan menjelek-jelekkan mereka agar suami mengusir mereka. Na’udzubillah.

Bukan berarti kalau suami istri tinggal di rumah sendiri yang terpisah dari orangtua dan mertua bisa bebas dari hal-hal tersebut. Sikap itu lahir dari pemahaman. Jika istri memahami bahwa mertua tidak berbeda dengan orangtua yang harus dihormati dan mendapatkan bakti, insya Allah sikap durhaka ini tidak akan terjadi.

5. Tidak mempercantik diri di hadapan suami

Tidak mempercantik diri di hadapan suami juga bisa menjadi bentuk kedurhakaan jika sebenarnya istri mampu melakukannya. Dan pada praktiknya, banyak istri yang bisa mempercantik diri di hadapan suami namun ia enggan melakukannya.

Sedangkan jika keluar rumah untuk jalan-jalan bersama teman, shopping, arisan, kondangan dan sejenisnya, ia menghabiskan banyak waktu untuk merias diri dan keluar rumah dalam kondisi cantik jelita. Lengkap dengan parfumnya. Padahal Rasulullah melarang kaum wanita mengenakan parfum ketika keluar rumah.

أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ عَلَى قَوْمٍ لِيَجِدُوا مِنْ رِيحِهَا فَهِيَ زَانِيَةٌ

“Wanita mana saja yang memakai parfum kemudian lewat pada suatu kaum supaya mereka mencium bau parfum itu maka perempuan itu telah berzina” (HR. An Nasa’i)

أَيُّمَا امْرَأَةٍ اسْتَعْطَرَتْ فَمَرَّتْ بِقَوْمٍ لِيَجِدُوا رِيحَهَا فَهِىَ زَانِيَةٌ

“Wanita mana saja yang memakai parfum lalu melewati suatu kaum supaya mereka mencium bau parfum itu maka perempuan itu telah berzina” (HR. Ahmad) Wallahu a’lam bish shawab. (webmuslimah)











Artikel Menarik Lainnya

Posted on 2015-12-23 17:16
Posted on 2016-04-15 14:38
Posted on 2016-04-15 16:27
Posted on 2015-11-06 12:53