Kisah Nyata Pengorbanan Seorang Kakak Untuk Kesuksesan Adiknya

Posted on 2016-01-25 17:27





Kenalkan aku Mela seorang gadis kecil yang lahir di desa terpencil, pekerjaan setiap hari orang tuaku adalah dengan membajak sawah. Aku juga mempunyai seorang kakak laki-laki bernama Ikhsan, dia seorang kakak yang berumur beda 3 tahun dariku. Ini kisah dan cerita tentang kakakku yang mungkin sedih dan mengharukan buat Aku.

Suatu hari Aku ingin membeli sepatu, karena sepatu yang lama sudah terlihat sobek. Jadi pada saat itu Aku mencuri uang di laci ayahku. Namun ternyata ayahku terlanjur mengetahuinya. Ayah pun menanyakan hal tersebut padaku juga kakak ikhsan "Siapa yang mencuri uang Ayah?" suara Ayah yang keras dan penuh emosi. Namun Aku terdiam dan takut untuk berbicara, karena tak satu pun dari kami berdua mau berbicara akhirnya ayah berkata "Baik! karena kalian tidak ada yang mau mengaku maka kalian berdua harus dihukum!" Tiba-tiba Kakak menggenggam tangan ayah dan berkata "Ayah, Akulah yang telah mencuri uang ayah" Dia melakukan hal itu hanya demi Aku. Di tengah malam Aku menangis, namun kakakku mengusap air mataku dan berkata "Adik jangan menangis lagi, semua telah terjadi" Saat itulah Aku tidak akan melupakan ekspresi kakak saat melindungi Aku. Tahun itu Aku berusia 8 tahun dan kakakku berusia 11 tahun, tetapi kejadian itu tak bisa aku lupa.

Ketika Aku diterima di sekolah Menengah Atas Negeri, pada saat yang sama kakakku diterima juga untuk masuk di universitas negeri ternama. Malam itu saat ayah duduk di halaman rumah, Aku mendengar pembicaraan ayah dan Ibu "Ibu Anak-anak kita memiliki hasil yang sangat baik" ucap ayah. Dan pada saat itu Ibu langsung mengeluarkan air mata dan berkata "Tapi apa gunanya, tak mungkin kita bisa membiayai keduanya?" Suara ibu dengan serak tangis. Pada saat itu juga kakakku berjalan keluar dan berdiri di depan Ayah dan ibu sambil berkata "Ayah, Aku tidak akan melanjutkan sekolah lagi, Aku sudah lulus SMA, dan Aku hanya ingin bekerja". Tapi sepertinya Ayah terlihat marah dan berkata "Mengapa kamu mempunyai sikap lemah, Ayah akan membiayai kalian berdua meski harus mengemis di jalanan" dan kemudian Ayah langsung pergi untuk meminjam uang ke rumah saudara dan tetangga. Lalu Aku pun datang dan menyentuh lembut wajah kakakku dan aku berkata padanya "Anak laki-laki harus melanjutkan sekolahnya. Jika tidak, kakak tidak akan mampu mengatasi kemiskinan yang kita alami" Ujar aku dengan tangis. Di sisi lain, Aku telah memutuskan untuk tidak melanjutkan sekolah di SMA Negeri.

Tak ada yang tahu pada hari berikutnya sebelum subuh, kakakku meninggalkan rumah dengan meninggalkan catatan di bantal "Dik, masuk ke SMA negeri tidaklah mudah. Dengan ijazah SMA ini kakak akan pergi mencari kerja dan kakak akan mengirimkan uang untuk kamu" Aku pun memegang erat kertas tersebut diatas tempat tidurku sambil menangis hingga tertidur.

Dengan uang yang diperoleh ayah dengan cara meminjam ke saudara dan tetangga juga dari uang kakakku yang dihasilkan dari bekerja sebagai pengangkut semen. Akhirnya Aku lulus dan bisa masuk ke Universitas Negeri yang dulu kakakku inginkan. Tahun itu Aku berusia 19 tahun dan kakakku berusia 22 tahun.

Suatu hari Aku sedang belajar di kamar kost, lalu temanku datang dan memberitahukan "ada seorang seperti pengemis sedang mencari kamu diluar sana" Mengapa ada seorang pengemis mencari Aku? karena penasaran Aku pun keluar, dan nampak dari jauh terlihat seseorang yang disekujur tubuhya ditutupi semen dan kotoran debu yang ternyata dia adalah kakakku. "Aku pun bertanya Mengapa kamu tidak bilang pada temanku bahwa kamu adalah kakakku?" Dia menjawab sambil tersenyum "lihat bagaimana penampilanku, apa yang akan mereka pikir kalau kamu adalah adikku? apakah mereka tidak menertawakanmu?"

Aku merasa sangat tersentuh , dan air mata memenuhi mataku. Aku menyapu kotoran dan debu dari tubuh kakakku. Dan Aku berkata padanya dengan suara serak, " Aku tidak peduli apa yang orang akan katakan! Kamu adalah kakakku apa pun penampilan kamu" Dari Tasnya, ia mengeluarkan sebuah laptop . Dia memberikannya padaku dan berkata , "kakak  melihat semua orang yang kuliah di Universitas ini memakainya . Aku pikir kamu juga harus memiliki satu" Aku tidak bisa menahan diriku lagi . Aku menarik kakakku ke dalam pelukanku dan menangis. Aku tahu harga laptop itu sangat mahal, dan ia rela menghemat biaya hidupnya hanya untuk Aku. Tahun itu, aku berusia 20 tahun, kakakku berusia 23 tahun.

***

Setelah Aku menikah, Aku tinggal di kota. suamiku dan aku mengundang orang tuaku untuk datang dan tinggal bersama kami, tetapi mereka tidak mau. Mereka mengatakan bila mereka meninggalkan desa, mereka tidak akan tahu apa yang harus dilakukan di kota. Kakakku tidak setuju denganku. Dia berkata, "Dik, Kamu mengurus suami dan mertuamu saja. Aku akan mengurus Ibu dan Ayah di sini"

Suamiku baru saja diangkat menjadi direktur diperusahaannya. Kami meminta kakakku untuk mau menerima tawaran menjadi manajer pada departemen pemeliharaan. Tapi kakak menolak tawaran itu. Dia bersikeras bekerja sebagai tukang pengangkut semen. Suatu hari , kakakku tertimpa tumpukkan semen sangat banyak, lukanya
 cukup parah sehingga harus dikirim ke rumah sakit . Suamiku dan Aku mengunjungi dia di rumah sakit. Melihat luka di sekujur tubuhnya, Aku menggerutu, "Kenapa kamu menolak tawaran menjadi manajer? Manajer tidak akan melakukan sesuatu yang berat seperti itu. Sekarang lihat diri kamu, kamu  menderita cedera serius. Kenapa kamu tidak mendengarkan kami!?" Dengan ekspresi serius di wajahnya, ia membela keputusannya, "Aku memikirkan Adik iparku, ia baru saja di angkat jadi direktur. Kalau aku, yang tidak berpendidikan akan menjadi manajer , berita seperti apa yang akan dikirimkan?", Mata suamiku pun dipenuhi air mata, dan kemudian Aku berkata, "Tapi kamu kurang pendidikan juga karena aku!" Dan kakakku hanya menjawab "Mengapa Kamu berbicara tentang masa lalu?", Sambil kemudian dia memegang tanganku. Tahun itu, ia berusia 29 tahun dan Aku berusia 26 tahun. Dan beberapa hari di rumah sakit akhirnya kakakku meninggal. Selama sebulan, hampir setiap hari aku menangisinya.

Kini Aku berada di puncak kejayaanku. Dalam sebuah acara seminar, pembawa acara bertanya padaku "Siapakah orang yang Anda hormati dan kasihi ?" Bahkan tanpa mengambil waktu untuk berpikir , Aku menjawab, "Kakakku" Aku melanjutkan dengan menceritakan kembali sebuah kisah yang selalu kuingat. "Ketika saya masih di sekolah dasar, sekolah itu letaknya di sebuah desa yang berbeda. Setiap hari, saya dan kakak saya berjalan selama 2 jam ke sekolah juga kembali ke rumah. Suatu hari, saya kehilangan satu dari sepatuku. Kakakku memberiku sepatu miliknya. Dia hanya mengenakan satu sepatu milikku dan dia harus berjalan jauh. Ketika kami tiba di rumah, kakinya begitu gemetaran karena menahan kesakitanSejak hari itu, aku bersumpah bahwa selama saya hidup, saya akan ingat kakakku dan akan selalu baik kepadanya, dialah yang telah menjadikanku sukses seperti ini. Tapi kini, kakakku telah tiada" Tepuk tangan membanjiri ruangan itu. Semua tamu mengalihkan perhatian mereka kepadaku. Aku merasa sulit untuk berbicara tapi aku lanjutkan, "Dalam seluruh hidup saya, yang saya ingin hanya mengucapkan terima kasih yang paling dalam untuk kakak Saya" dengan suara serak di depan kerumunan, tak terasa air mata bergulir di wajahku lagi.

 











Artikel Menarik Lainnya

Posted on 2015-12-23 16:50
Posted on 2016-01-23 00:00
Posted on 2015-11-11 16:58
Posted on 2017-01-06 14:51
Posted on 2015-12-17 12:33